Saat ini Indonesia dihadapkan pada
tantangan global berupa persaingan dalam segala bidang terutama ekonomi
& perdagangan. Ada sejumlah pra-syarat yang mesti dipenuhi oleh
bangsa ini untuk mampu bersaing di tingkat global, antara lain budaya
unggul. Sementara, budaya unggul yang dimiliki bangsa Indonesia masih
jauh dibandingkan budaya unggul bangsa lain, misalnya Jerman. Jerman
(bangsa yg mampu bangkit dari keterpurukan pada PD II dan tumbuh menjadi
bangsa yang kuat dan maju , bahkan menjadi lokomotif Uni Eropa). Jerman
dengan nenek moyangnya bangsa Aria/Indo German. Secara historis Bangsa
Aria juga bermigrasi ke India (yg juga memiliki budaya unggul). Sebagian
wilayah Indonesia dan masyarakatnya dahulu banyak mendapatkan pengaruh
yg sangat kuat dari kebudayaan Hindhu-Budha (dari India). Sebutan
Aria/Arya sebenarnya tidak asing bagi nenek moyang bangsa Indonesia,
bahkan banyak dipakai sebagai nama, misalnya: Arya Wiraraja, Arya
Penangsang, Arya Damar, dll.
Budaya Unggul Jerman vs. Indonesia
1.Jujur
Banyak
contoh budaya jujur bangsa Jerman dlm kehidupan sehari-hari: Membayar /
membeli tiket naik trem/bus sendiri tanpa ada petugas yang menariknya,
Membeli Koran dengan membayar dan mengambil sendiri tanpa ditunggui
penjualnya, Penggunaan student card utk mendapatkan berbagai
fasilitas (gratis transportasi, diskon makan di menza, diskon masuk
museum, dll.) dg tanpa meminjamkannya kepada orang lain yg bukan mhs
supaya memperoleh fasilitas yg sama, Melaksanakan tes atau ujian di
Univ. (kecurangan diberikan sanksi tegas), Pemberian surat keterangan
dokter.
Sementara,
pada bangsa Indonesia (mayoritas Muslim) belum menjadi sebuah budaya
budaya. Kejujuran sebagai nilai penting baru sebatas
kognitif/pengetahuan blm terwujud dlm sikap/afektif apalagi budaya
keseharian masyarakat. Sesungguhnya agama (Islam) dengan ajaran tentang
kejujurannya merupakan modal yg sudah dimiliki bangsa ini untuk
membangun budaya jujur.
2.Anti korupsi dan melayani
Beberapa
contoh: Budaya anti korupsi di kalangan aparat kepolisian, Budaya anti
korupsi di kalangan pegawai kantor pemerintah (mengurus perpanjangan
visa utk mhs. asing / gratis.
Untuk
kasus ini, Indonesia perlu bekerja keras, karena budaya yang dimiliki
justru kebalikannya. Meskipun demikian, kita memiliki agama dg ajarannya
ttg keharaman riswah yg dapat dipakai utk membongkar budaya korupsi dan
menggantinya dengan membangun budaya anti korupsi.
3.Mandiri dan kerja keras dengan hasil bermutu tinggi
Kemandirian
diajarkan sejak dini. Di usia 19 th : menghidupi diri sendiri. Beberapa
contoh: Penguasaan teknologi : mesin/mobil-made in Germany, Seni:
Bethoven-Gothe-Johan Sebastian Bach. Bahasa, penguasaan B. Arab dengan
baik dlm waktu yg cepat, Penulisan Kamus: Arab Jerman Hans-Wehr,
Pengalaman kuliah: tdk ada model paket, tdk ada budaya meminjam catatan
orang lain, waktu kerja/belajar untuk kerja/belajar, sedangkan waktu
istirahat utk istirahat, tdk “kombinatif”.
Bangsa
Indonesia sesungguhnya sudah memiliki budaya kerja keras, tetapi belum
cukup menghasilkan produk dg mutu yg tinggi. Betapa banyaknya orang yang
bekerja siang malam dan bekerja apa saja, tetapi hasilnya begitu-begitu
saja. Budaya mandiri jg belum terbentuk. Mungkin karena dominannya rasa
kasihan yang diberikan oleh orang tua kepada anak sehingga anak justru
menjadi kurang mandiri. Banyak kasus dimana orang tua menanggung
kehidupan anak bahkan ketika sang anak sudah menikah/berkeluarga.
4.Berfikir serius /cinta ilmu
Ungkapan sehari-hari dalam B. Jerman:“Ich denke” / I think dan bukan “Ich fuhle”/ I feel menunjukkan
budaya berfikir yg kuat. Analogi dikutip dari Monika Wizeman: “Kalau
orang Amerika dan Jerman diperintahkan mendiskripsikan harimau maka
orang Amerika akan masuk hutan 2 hari dan keluar membawa 2 buku
deskripsi harimau, sedangkan orang Jerman akan masuk ke hutan selama 2
bln dengan membawa tumpukan buku yg berisi deskripsi lengkap harimau
dari ujung kuku sampai ujung rambut kepala dan ekornya tanpa ada yg
tersisa”. Jerman banyak menghasilkan filosof besar dunia : Immanuel
Kant, Karl Marx, tokoh-tokoh dalam Madzhab Frakfurt, dll. Untuk menjamin
pendidikan semua sekolah gratis dari SD-PT bahkan utk orang asing, dan
akses kepada sumber ilmu dipermudah: perpustakaan.
Bangsa
Indonesia, Insyaallah sudah mengarah ke sana. Hanya saja, khusus utk
urusan berfikir serius kita belum punya banyak tokoh filosof, meskipun
sesungguhnya kita punya banyak budayawan. Mungkin ada hubungannya dengan
kuatnya kekuatan perasaan daripadakekuatan piker sebagai mana terungkap
dalam bahasa sehari-hari: “saya rasa” atau “saya kira”, bukan “saya
pikir”.
5.Disiplin
Ungkapan “Du komst zu spaet”
merupakan ungkapan yg dilontarkan kepada seseorang yang terlambat
misal. menyerahkan /menyelesaikan sesuatu Contoh-contoh dlm keseharian:
Bus/kereta api/trem berangkat dan tiba sesuai jadwal. Bahkan sampai
jadwal makanpun, mereka disiplin.
Budaya
ini belum terbentuk di kalangan bangsa kita. Dalam berbagai aspek
kehidupan, kita belum memiliki budaya disiplin. Dalam hal waktu
misalnya, istilah “jam karet” merupakan salah satu indikasi ini.
6.Apa adanya
Beberapa contoh: Berbicara straightto the point, Penampilan-pakaian, hp, kendaraan, membawa bekal makanan & minuman sendiri, dsb.)
Budaya
kita lebih dominan menampilkan sisi luar / formalitas daripada
substansi. Akibatnya, costly tetapi tidak menghasilkan sesuatu yang
fundamental.
7.Memberikan kepada orang lain akan haknya
Beberapa
contoh: Antri utk memperoleh pelayanan -di bank, took roti, kantor
pemerintah, kasir, dll., Memberikan hak pengguna jalan : jl raya, jalan
sepeda, trotoar, dll. Informasi tentang hak-hak dan fasilitas calon
pengguna moda transportasi (mana tiket yg murah, dengan kereta yg baik,
serta dg waktu tiba yg tanpa mengganggu jadwal kegiatan si calon
pengguna transportasi KA).
Budaya kita, masih senang menyerobot dan menyembunyikan hak orang lain. Terlalu banyak contoh untuk disebutkan.
8.Taat pada aturan
Beberapa
contoh kecil: naik/turun penunpang di halte, lampu lalu lintas yg
benar-benar dipatuhi, penggunaan fasilitas di kampus, Cara orang tua
mendidik anak utk taat pada aturan di rumah dengan reward and punishment
– (pengalaman melihat orang tua bersama anak di super market)
Budaya
taat aturan belum sepenuhnya kuat. Kita masih harus bekerja keras untuk
membentuk budaya ini secara lebih mantap dan menyeluruh.
9.Percaya
pada kemampuan sendiri dan kreatif (semua pekerjaan dipikirkan dan
diciptakan alat utk mempermudah mengerjakannya (ingat penemuan mesin
cetak: Gutenberg, dll.).
Budaya kita, masih “gumunan” dan “minder” berhadapan dengan bangsa lain.
10.Berjuang
sampai titik akhir, tanpa kenal putus asa (bangkit dari kehancuran PD
II- semua kota dan bangunan di rekonstruksi dan kembali seperti
sediakala, permainan sepak bola – mengejar ketertinggalan bahkan
menjelang permainan berakhir)
Kita
punya pengalaman besar (merebut kemerdekaan dari penjajah), tapi mental
tersebut belum membudaya dalam seluruh lini kehidupan bangsa. Kita
memiliki modal berupa ketahanan dalam penderitaan. Tetapi modal tsb.
belum dikombinasikan dengan budaya dinamik, tetapi justru Yang menonjol
justru budaya statis (bahkan mungkin suka kemapanan dan anti perubahan),
kurang berani mencoba dan berinovasi (yang sesungguhnya merupakan kunci
kemajuan).
11.Cinta
tanah air (Vaterland –Indonesia: Ibu pertiwi, orang Jerman sangat
bangga menggunakan bahasa Jerman / tdk banyak Uni menggunakan B.
Inggris, bersatunya Jerman: setiap warga Jerman barat berkontribusi utk
melunasi hutang negara eks Jerman Timur, bangga dan cinta terhadap
produk sendiri).
Kita
justru kebalikannya, budaya cinta tanah air melemah. Beberapa contoh:
kurang sadar berbahasa Indonesia yang baik. Yang lebih tragis, banyak
bahasa daerah yang hamper mati.
Bangsa Indonesia sesungguhnya memiliki modal untuk membangun budaya unggul. Perlu pendidikan dan pelatihan/pembiasaan yg diusahakan secara sadar dan terencana untuk mewujudkan budaya unggul dengan berkaca pada ajaran agama (Islam), modal budaya dan pengalaman historis bangsa Indonesia sendiri yang relevan, serta budaya unggul bangsa lain.
SUMBER: https://www.kompasiana.com/bharata_yudha/budaya-jerman-vs-indonesia-refleksi-perbandingan_552f9c6a6ea8342c7b8b458d
Tidak ada komentar:
Posting Komentar