1.
Pengertian Risiko
Menurut Peltier dalam
Gondodiyoto (2007 : 110), risiko adalah sesuatu yang dapat menciptakan atau menimbulkan
bahaya.
Menurut Peltier (2005:
325), “Risk is the probability that a particular critical infrastructure’s vulnerability
is being exploited by a particular threat weighted by the impact of that
exploitation.” Yang diterjemahkan “Risiko adalah kemungkinan adanya kelemehan
infrastruktur yang kemudian dimanfaatkan oleh ancaman tertentu yang dipengaruhi
eksploitasi tersebut.”
2.
Risiko Audit Sistem Informasi
1. Risiko Inherent – Atau ‘Inherent Risk’ (IR)
adalah risiko yang mungkin timbul akibat karakter bawaan dari suatu transaksi,
bisa juga karena : kompleksitas transaksi dan klas transaksi, atau kompleksitas
perhitungan, aset yg mudah tercuri/digelapkan, ketiadaan informasi yang
sifatnya obyektif. Sudah menjadi pemahaman publik bahwa inherent risk adalah
diluar jangkauan auditor dalam melakukan pencegahan. Bahkan, juga diluar
kendali pihak auditee sendiri. Jadi dengan kata lain, auditor hanya bisa
menemukan tetapi tidak bisa melakukan apa-apa.
2. Risiko Pengendalian – Atau ‘Control Risk’ (CR)
adalah risiko yang bisa timbul akibat kelemahan sistim pengendalian intern
(SPI) auditee, tak tahu karena desainnya yang lemah atau pelaksanaanya yang
tidak sesuai desain—thus tidak mampu mencegah potensi salahsaji bersifat
material dan/atau penggelapan (fraud). Jadi CR tidak bisa dikendalikan oleh
auditor akan tetapi bisa dikendalikan oleh auditee jika mereka mau.
3. Risiko Deteksi – Atau ‘Detection Risk’ (DR),
adalah risiko yang bisa timbul akibat kegagalan auditor dalam menedeteksi
adanya salahsaji bersifat material dan/atau penggelapan (fraud). Jadi DR ada
dalam kendali auditor. Itu karena DR sepenuhnya ada pada kendali auditor, maka
sudah pasti mereka harus berupaya untuk menekan risiko ini hingga ke
tingkatakan yang paling minimal (tidak mungkin menghilangkan risiko ini
sepenuhnya).
3.
Tujuan Analisis Risiko
Tujuan analisis resiko
ini untuk membantu auditor agar lebih fokus audit pada area yang faktor
risikonya besar. Untuk itu auditor menyiapkan rencana kerja audit (audit
program) mengenai batas, jadwal, dan prosedur untuk mencapai sasaran audit. Contoh
:
1.
Pengamanan Aset
Aset
informasi suatu perusahaan seperti perangkat keras (hardware), perangkat lunak
(software), sumber daya manusia, file data harus dijaga oleh suatu sistem
pengendalian intern yang baik agar tidak terjadi penyalah gunaan aset
perusahaan
2.
Menjaga integritas data
Data
memeiliki atribut-atribut tertentu seperti: kelengkapan, keberanaran, dan
keakuratan. Jika integritas data tidak terpalihara, maka suatu perusahaan tidak
akan lagi memilki hasil atau laporan yang beanr bahkan perusahaan dapat
menderita kerugian
3.
Efektifitas Sistem
Efektifitas
sistem informasi perusahaan melikiki peranan pentigndalam proses pemgambilan
keputusan. Suatu sistem informasi dapat dikatakan efektif bila sistem informasi
tersebut telah sesuai dengan kebutuhan user
4.
Efisiensi Sistem
Efisiensi
menjadi hal yang sangat penting ketika suatu komputer tidak lagi memilki
kapasitas yang memadai atau harus mengevaluasi apakah efisiensi sistem masih
memadai atau harus menambah sumber daya, karena suatu sistem dapat dikatakan
efisien jika sistem informasi dapat memenuhi kebutuhan user dengan sumber daya
informasi yang minimal.
4.
Dampak Resiko Audit Sistem Informasi
Terdapat beberapa
resiko yang mungkin ditimbulkan sebagai akibat dari gagalnya pengembangan suatu
sistem informasi, antara lain:
1.
Sistem informasi yang dikembangkan tidak
sesuai dengan kebutuhan organisasi.
2.
Melonjaknya biaya pengembangan sistem
informasi karena adanya “scope creep” (atau pengembangan berlebihan) yang tanpa
terkendali.
3.
Sistem informasi yang dikembangkan tidak
dapat meningkatkan kinerja organisasi
5.
Elemen-elemen Resiko yang Dihadapi
a. Ancaman terhadap , dan kerentanan , proses dan /
atau aset
b. Dampak terhadap aset berdasarkan ancaman dan
kerentanan
c. Probabilitas ancaman ( kombinasi dari likelihood
sampel datanya dan frekuensi kejadian )
6.
Fokus Terhadap Resiko
Auditor
harus menilai setiap kekuatan pengendalian internal, sehingga risiko
pengendalian dapat diperkirakan. Pada tingkat di mana risiko itu berada dalam
suatu kisaran yang dapat diterima terutama dengan masalah financial, auditor
harus mempersiapkan program audit yang menunjukkan langkah pengujian kekuatan
agar tidak terjadi kebangkrutan perusahaan.
Contoh resiko :
a. kehancuran karena bencana alam
b. kesalahan pada software dan tidak berfungsi
peralatan
c. sabotase penipuan terhadap aset perusahaan
(pencurian)
7.
Bagaimana Menghadapi Resiko
a. Mengurangi resiko
Apabila perusahan terdapat musibah yang
mengakibatkan krisis financial atau krisis yang lainya yang mengakibatkan
kebangkrutan peruhaan harus merubah sistem pengendalian agar tetap financial
perusahaan stabil.
contoh :
·
pengurangan
jumlah karyawan
·
pengurangan
jumlah produksi yang dihasilkan pada jangka yang ditentukan sampai kondisi
kembali stabil
b. Memindahkan resiko
Untuk
menghindari resiko yang tidak dapat diduga atau resiko yang datang secara
tiba-tiba seperti bencana alam gempa bumi, kebakaran dll peruhaan harus bisa
mengatasi agar tetap exis dan berjalan dengan cara mengurus asuransi kepada
pihak lain dengan ketentuan kepada kedua pihak yaitu pihan perusahaan dan pihak
asuransi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar